Kerajaan Sriwijaya

Sumber ; Dari Wikipedia bahasa Indonesia

 

Sriwijaya (atau juga disebut Srivijaya ; Thai : ศรี วิชัย atau “Sri wichạy”) adalah salah satu Kekaisaran bahari yang pernah berdiri di pulauSumatera dan banyak memberi pengaruh di Nusantara dengan daerah kekuasaan membentang dari Kamboja , Thailand Selatan,Semenanjung Malaya , Sumatera , Jawa , dan pesisir Kalimantan .  Dalam bahasa Sansekerta , sri berarti “bercahaya” atau “gemilang”, dan wijaya berarti “kemenangan” atau “kesuksesan”, maka nama Sriwijaya berarti “kemenangan yang gilang-gemilang” .Bukti awal mengenai keberadaan kerajaan ini berasal dari abad ke-7; seorang pendeta Tiongkok, I Tsing , menulis bahwa ia mengunjungi Sriwijaya tahun 671 dan tinggal selama 6 bulan. Selanjutnya prasasti yang paling tua mengenai Sriwijaya juga berada pada abad ke-7, yaitu prasasti Kedukan Bukit di Palembang , tertanggal 682.  Kemunduran pengaruh Sriwijaya terhadap daerah bawahannya mulai menyusut dikarenakan beberapa peperangandi antaranya serangan dari raja Dharmawangsa Teguh dari Jawa pada tahun 990, dan tahun 1025 serangan Rajendra Chola I dari Koromandel , selanjutnya tahun 1183 kekuasaan Sriwijaya di bawah kendali pemerintahdharmasraya .

Setelah jatuh, pemerintah ini terlupakan dan keberadaannya baru diketahui kembali lewat publikasi tahun 1918 dari sejarawan PerancisGeorge Cœdès dari École française d’Extreme-Orient .

 

Catatan sejarah

Tidak ada catatan lebih lanjut mengenai Sriwijaya dalam sejarah Indonesia; masa lalunya yang terlupakan dibentuk kembali oleh sarjana asing. Tidak ada orang Indonesia modern yang mendengar mengenai Sriwijaya sampai tahun 1920-an, ketika sarjana Perancis George Cœdès mempublikasikan penemuannya dalam surat kabar berbahasa Belanda dan Indonesia .Coedès menyatakan bahwa referensi Tiongkok terhadap “San-fo-ts’i”, sebelumnya dibaca “Sribhoja”, dan beberapa prasasti dalam Melayu Kuno merujuk pada kekaisaran yang sama.

Selain berita-berita diatas tersebut, telah ditemukan oleh Balai Arkeologi Palembang sebuah perahu kuno yang diperkirakan ada sejak masa awal atau proto Kerajaan Sriwijaya di Desa Sungai Pasir, Kecamatan Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir , Sumatera Selatan . Sayang, kepala perahu kuno itu sudah hilang dan sebagian papan perahu itu digunakan justru buat jembatan . Tercatat ada 17 keping perahu yang terdiri dari bagian lunas, 14 papan perahu yang terdiri dari bagian badan dan bagian buritan untuk menempatkan kemudi. Perahu ini dibuat dengan teknik pasak kayu dan papan ikat yang menggunakan tali ijuk. Cara ini sendiri dikenal dengan sebutan teknik tradisi Asia Tenggara. Selain bangkai perahu, ditemukan juga sejumlah artefak-artefak lain yang berhubungan dengan temuan perahu, seperti tembikar, keramik, dan alat kayu.

Sriwijaya menjadi simbol kebesaran Sumatra awal, dan kerajaan besar Nusantara selain Majapahit di Jawa Timur. Pada abad ke-20, kedua kerajaan tersebut menjadi referensi oleh kaum nasionalis untuk menunjukkan bahwa Indonesia merupakan satu kesatuan negara sebelelum kolonialisme Belanda .

Sriwijaya disebut dengan berbagai macam nama. Orang Tionghoa menyebutnya Shih-li-fo-shih atau San-fo-ts’i atau San Fo Qi . Dalam bahasa Sanskerta dan bahasa Pali, kerajaan Sriwijaya disebut Yavadesh dan Javadeh . Bangsa Arab menyebutnya Zabaj dan Khmer menyebutnya Malayu . Banyaknya nama merupakan alasan lain mengapa Sriwijaya sangat sulit ditemukan.  Sementara dari peta Ptolemaeus ditemukan keterangan tentang adanya 3 pulauSabadeibei yang kemungkinan terkait dengan Sriwijaya.

Sekitar tahun 1993, Pierre-Yves Manguin melakukan observasi dan berpendapat bahwa pusat Sriwijaya berada di Sungai Musi antara Bukit Seguntang danSabokingking (terletak di provinsi Sumatera Selatan sekarang), tepatnya di sekitar situs Karanganyar yang kini dijadikan Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya[2] Pendapat ini didasarkan dari foto udara tahun 1984 yang menunjukkan bahwa situs Karanganyar menampilkan bentuk bangunan air, yaitu jaringan kanal, parit, kolam serta pulau buatan yang disusun rapi yang dipastikan situs ini adalah buatan manusia. Bangunan air ini terdiri atas kolam dan dua pulau berbentuk bujur sangkar dan empat persegi panjang, serta jaringan kanal dengan luas areal meliputi 20 hektar. Di daerah ini ditemukan banyak peninggalan purbakala yang menunjukkan bahwa daerah ini pernah menjadi pusat permukiman dan pusat aktifitas manusia.Namun sebelumnya Soekmonoberpendapat bahwa pusat Sriwijaya terletak di daerah sehiliran Batang Hari , antara Muara Sabak sampai ke Muara Tembesi (di provinsi Jambi sekarang ),dengan catatan Malayu tidak di daerah tersebut, jika Malayu di daerah tersebut, ia cendrung kepada pendapat Moens, yang sebelumnya juga telah berpendapat bahwa letak dari pusat kerajaan Sriwijaya berada di kawasan Candi Muara Takus (provinsi Riau sekarang) , dengan asumsi petunjuk arah perjalanan dalam catatan I Tsing , dan hal ini dapat juga dikaitkan dengan berita tentang pembangunan candi yang dipersembahkan oleh raja Sriwijaya (Se li chu la wu ni fu ma tian hwa atau Sri Cudamaniwarmadewa) tahun 1003 kepada kaisar Cina yang dinamakan cheng tien wan shou (Candi Bungsu, salah satu bagian dari candi yang terletak di Muara Takus). [14] Namun yang pasti pada masa penaklukan oleh Rajendra Chola I , berdasarkan prasasti Tanjore , Sriwijaya telah beribukota di Kadaram ( Jakarta sekarang).

 

Pembentukan dan pertumbuhan

Belum banyak bukti fisik mengenai Sriwijaya yang dapat ditemukan. Pemerintah ini menjadi pusat perdagangan dan merupakan negara bahari, namun pemerintah ini tidak memperluas kekuasaannya di luar wilayah kepulauanAsia Tenggara , dengan pengecualian berkontribusi untuk populasi Madagaskar sejauh 3.300 mil di barat.Beberapa ahli masih memperdebatkan daerah yang menjadi pusat pemerintahan Sriwijaya, selain itu kemungkinan pemerintah ini biasa memindahkan pusat pemerintahannya, namun daerah yang menjadi ibukota tetap diperintah secara langsung oleh penguasa, sedangkan daerah pendukungnya diperintah oleh datu lokal.

Kekaisaran Sriwijaya telah ada sejak 671 sesuai dengan catatan I Tsing , dari prasasti Kedukan Bukit pada tahun 682 di diketahui imperium ini di bawah kepemimpinan Dapunta Hyang . Di abad ke-7 ini, orang Tionghoa mencatat bahwa terdapat dua kerajaan yaitu Malayu dan Kedah menjadi bagian Kekaisaran Sriwijaya.Berdasarkanprasasti Kota Kapur yang berangka tahun 686 ditemukan di pulau Bangka , Kekaisaran ini telah menguasai bagian selatan Sumatera, pulau Bangka dan Belitung, hingga Lampung . Prasasti ini juga menyebutkan bahwa Sri Jayanasa telah meluncurkan ekspedisi militer untuk menghukum Bhumi Jawa yang tidak berbakti kepada Sriwijaya, peristiwa ini bersamaan dengan runtuhnya Tarumanagara di Jawa Barat dan holing ( Kalingga ) di Jawa Tengah yang kemungkinan besar akibat serangan Sriwijaya. Sriwijaya tumbuh dan berhasil mengendalikan jalur perdagangan maritim di Selat Malaka , Selat Sunda , Laut Cina Selatan , Laut Jawa , dan Selat Karimata .

Ekspansi kerajaan ini ke Jawa dan Semenanjung Malaya, menjadikan Sriwijaya mengoperasikan dua pusat perdagangan utama di Asia Tenggara. Berdasarkan observasi, ditemukan reruntuhan candi-candi Sriwijaya diThailand dan Kamboja . Di abad ke-7, pelabuhan Cham di sebelah timur Indochina mulai mengalihkan banyak pedagang dari Sriwijaya. Untuk mencegah hal tersebut, Kaisar Dharmasetu meluncurkan beberapa serangan ke kota-kota pantai di Indochina. Kota Indrapura di tepi sungai Mekong , di awal abad ke-8 berada di bawah kendali Sriwijaya. Sriwijaya meneruskan dominasinya atas Kamboja, sampai raja Khmer Jayawarman II , pendiri Kekaisaran Khmer, memutuskan hubungan dengan Sriwijaya pada abad yang sama. Di akhir abad ke-8 beberapa kerajaan di Jawa, antara lain Tarumanegara dan holing berada di bawah kekuasaan Sriwijaya. Menurut catatan, pada masa ini pula wangsaSailendra bermigrasi ke Jawa Tengah dan berkuasa disana. Di abad ini pula, Langkasuka di semenanjung Melayu menjadi bagian pemerintah.Di masa berikutnya, Pan dan Trambralinga, yang terletak di sebelah utara Langkasuka, juga berada di bawah pengaruh Sriwijaya.

Setelah Dharmasetu, Samaratungga menjadi penerus kerajaan. Ia berkuasa pada periode 792 sampai 835. Tidak seperti Dharmasetu yang ekspansionis, Samaratungga tidak melakukan ekspansi militer, tetapi lebih memilih untuk memperkuat penguasaan Sriwijaya di Jawa. Selama masa kepemimpinannya, ia membangun candi Borobudur di Jawa Tengah yang selesai pada tahun 825.

 

Agama

Sebagai pusat pengajaran Budha Vajrayana , Sriwijaya menarik banyak peziarah dan sarjana dari negara-negara di Asia. Antara lain pendeta dari Tiongkok I Tsing , yang melakukan kunjungan ke Sumatera dalam perjalanan studinya di Universitas Nalanda , India , pada tahun 671 dan 695 , I Tsing melaporkan bahwa Sriwijaya menjadi rumah bagi sarjana Buddha sehingga menjadi pusat pembelajaran agama Buddha. Selain berita diatas, ada berita yang dibawakan oleh I Tsing, disebutkan bahwa ada 1000 orang pendeta yang belajar agama Budha di Sakyakirti , seorang pendeta terkenal di Sriwijaya. Pengunjung yang datang ke pulau ini menyebutkan bahwa koin emas telah digunakan di pesisir kerajaan. Selain itu ajaran Buddha aliran Buddha Hinayana dan Buddha Mahayana juga turut berkembang di Sriwijaya. Menjelang akhir abad ke-10, Atiśa , seorang sarjana Budha asal Benggala yang berperan dalam mengembangkan Budha Vajrayana di Tibet dalam kertas kerjanya Durbodhāloka menyebutkan ditulis pada masa pemerintahan Sri Cudamani Warmadewa penguasa Sriwijayanagara diMalayagiri di Suvarnadvipa .

Kerajaan Sriwijaya banyak dipengaruhi budaya India , pertama oleh budaya Hindu kemudian diikuti pula oleh agama Buddha . Raja-raja Sriwijaya menguasai kepulauan Melayu melalui perdagangan dan penaklukkan dari abad abad ke-7 sampai abad ke-9 , sehingga secara langsung turut serta mengembangkanbahasa Melayu beserta kebudayaannya di Nusantara .

“…. Banyak raja dan pemimpin yang berada di pulau-pulau di Samudra Selatan percaya dan mengagumi Buddha, dihati mereka telah tertanam perbuatan baik. Di dalam benteng kota Sriwijaya dipenuhi lebih dari 1000 biksu Budha, yang belajar dengan tekun dan mengamalkannya dengan baik …. Jika seorang biarawan Cina ingin pergi ke India untuk belajar Sabda , lebih baik ia tinggal dulu di sini selama satu atau dua tahun untuk mendalami ilmunya sebelum dilanjutkan di India “.

- Penjelasan Sriwijaya menurut I Tsing.

Sangat dimungkinkan bahwa Sriwijaya yang termahsyur sebagai kota pusat perdagangan di Asia Tenggara, tentunya menarik minat para pedagang dan ulama muslim dari Timur Tengah, hingga beberapa kerajaan yang semula merupakan bagian dari Sriwijaya, kemudian tumbuh menjadi cikal-bakal kerajaan-kerajaan Islam di Sumatera kelak, disaat melemahnya pengaruh Sriwijaya.

Ada sumber yang menyebutkan, karena pengaruh orang muslim Arab yang banyak berkunjung dan berdagang di Sriwijaya, maka seorang raja Sriwijaya yang bernama Sri Indrawarman pada tahun 718 diduga masuk Islam  atau setidaknya tertarik untuk mempelajari Islam dan kebudayaan Arab, sehingga mungkin kehidupan sosial Sriwijaya adalah masyarakat sosial yang di dalamnya terdapat masyarakat Budha dan Muslim sekaligus. Tercatat beberapa kali raja Sriwijaya berkirim surat ke khalifah Islam di Damaskus ,Suriah . Pada salah satu naskah surat yang ditujukan kepada khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720) berisi permintaan agar khalifah sudi mengirimkan ulama ke istana Sriwijaya.

 

Budaya

Berdasarkan berbagai sumber sejarah, sebuah masyarakat yang kompleks dan kosmopolitan yang sangat dipengaruhi alam pikiran Budha Wajrayana digambarkan bersemi di ibu kota Sriwijaya. Beberapa prasasti Siddhayatra abad ke-7 seperti Prasasti Talang tuwo menggambarkan ritual Budha untuk memberkati peristiwa penuh berkah yaitu peresmian taman Sriksetra, penghargaan Kaisar Sriwijaya untuk rakyatnya. Prasasti Telaga Batu menggambarkan kerumitan dan tingkatan jabatan kantor pemerintah, sementara Prasasti Kota Kapur menyebutkan keperkasaan balatentara Sriwijaya pada Jawa. Semua prasasti ini menggunakan bahasa Melayu Kuno , leluhur bahasa Melayu dan bahasa Indonesia modern. Sejak abad ke-7, bahasa Melayu kuno telah digunakan di Nusantara . Ditandai dengan ditemukannya berbagai prasasti Sriwijaya dan beberapa prasasti berbahasa Melayu Kuno di tempat lain, seperti yang ditemukan di pulau Jawa. Hubungan dagang yang dilakukan berbagai suku bangsa Nusantara menjadi wahana penyebaran bahasa Melayu, karena bahasa ini menjadi alat komunikasi bagi kaum pedagang. Sejak saat itu, bahasa Melayu menjadi lingua franca dan digunakan secara luas oleh banyak penutur di Kepulauan Nusantara

Meskipun disebut memiliki kekuatan ekonomi dan keperkasaan militer, Sriwijaya hanya memberikan sedikit tinggalan purbakala di jantung negerinya di Sumatera. Sangat berbeda dengan episode Sriwijaya di Jawa Tengah saat kepemimpinan wangsa Syailendra yang banyak membangun monumen besar; sepertiCandi Kalasan , Candi Sewu , dan Borobudur . Candi-candi Budha yang berasal dari masa Sriwijaya di Sumatera antara lain Candi Muaro Jambi , Candi Muara Takus , dan Biaro Bahal . Akan tetapi tidak seperti candi periode Jawa Tengah yang terbuat dari batu andesit, candi di Sumatera terbuat dari bata merah.

Beberapa arca-arca bersifat Budhisme, seperti berbagai arca Budha yang ditemukan di Bukit Seguntang , Palembang , dan arca-arca BodhisatwaAwalokiteswara dari Jambi  , Bidor, Jakarta  dan Chaiya , dan arca Maitreya dari Komering, Sumatera Selatan. Semua arca-arca ini menampilkan keanggunan dan langgam yang sama yang disebut “Seni Sriwijaya” atau “Langgam / Gaya Sriwijaya” yang memperlihatkan kemiripan – mungkin diilhami – oleh langgam Amarawati India dan langgam Syailendra Jawa (sekitar abad ke-8 sampai ke-9) .

 

Perdagangan

Di dunia perdagangan, Sriwijaya menjadi pengendali jalur perdagangan antara India dan Tiongkok, yakni dengan penguasaan atas Selat Malaka danSelat Sunda . Orang Arab mencatat bahwa Sriwijaya memiliki aneka komoditas seperti kapur barus, kayu gaharu, cengkeh, pala, kepulaga, gading, emas, dan timah, yang membuat raja Sriwijaya sekaya raja-raja di India.

Kekayaan yang melimpah ini telah memungkinkan Sriwijaya membeli kesetiaan dari vassal-vassal -nya di seluruh Asia Tenggara. Dengan berperan sebagai entreport atau pelabuhan utama di Asia Tenggara, dengan mendapatkan restu, persetujuan, dan perlindungan dari Kaisar Cina untuk dapat berdagang dengan Tiongkok, Sriwijaya senantiasa mengelola jejaring perdagangan bahari dan menguasi urat nadi pelayaran antara Tiongkok dan India.

Karena alasan itulah Sriwijaya harus terus menjaga dominasi perdagangannya dengan selalu mengawasi – dan jika perlu – memerangi pelabuhan pesaing di negara tetangganya. Kebutuhan untuk menjaga monopoli perdagangan inilah yang mendorong Sriwijaya menggelar ekspedisi militer untuk menaklukkan kota pelabuhan pesaing di sekitarnya dan menyerap mereka ke dalam mandala Sriwijaya. Kota Malayu di Jambi, Kota Kapur di pulau Bangka, Tarumanagara dan pelabuhan Sunda di Jawa Barat, Kalingga di Jawa Tengah, dan kota Jakarta dan Chaiya di semenanjung Melaya adalah beberapa kota pelabuhan yang ditaklukan dan diserap kedalam lingkup pengaruh Sriwijaya. Disebutkan dalam catatan sejarah Champa adanya serangkaian serbuan angkatan laut yang berasal dari Jawa terhadap beberapa pelabuhan di Champa dan Kamboja. Mungkin angkatan laut penyerbu yang dimaksud adalah armada Sriwijaya, karena saat itu dinasti Sailendra di Jawa adalah bagian dari mandala Sriwijaya. Hal ini merupakan upaya Sriwijaya untuk menjamin monopoli perdagangan laut di Asia Tenggara dengan menggempur kota pelabuhan pesaingnya.

Keberhasilan bahari Sriwijaya terekam di relief Borobudur yaitu menggambarkan Kapal Borobudur , kapal kayu ber cadik ganda dan bertiang layar yang melayari lautan Nusantara sekitar abad ke-8 Masehi. Fungsi cadik ini adalah untuk menyeimbangkan dan menstabilkan perahu. Cadik tunggal atau cadik ganda adalah fitur khusus perahu bangsa Austronesia dan perahu bercadik inilah yang membawa bangsa Austronesia berlayar di seantero Asia Tenggara, Oseania , dan Samudra Hindia . Kapal layar bercadik yang diabadikan dalam relief Borobudur mungkin adalah jenis kapal yang digunakan armada Sailendra dan Sriwijaya dalam pelayaran antarpulaunya, Kekaisaran bahari yang menguasai daerah pada kurun abad ke-7 sampai ke-13 masehi.

Selain menjalin hubungan dagang dengan India dan Tiongkok , Sriwijaya juga menjalin perdagangan dengan tanah Arab . Kemungkinan utusan Maharaja Sri Indrawarman yang mengantarkan surat kepada khalifah Umar bin Abdul-Aziz dari Bani Umayyah tahun 718, kembali ke Sriwijaya dengan membawa hadiah Zanji (budak wanita berkulit hitam), dan kemudian dari kronis Tiongkok disebutkan Shih-li-fo-shih dengan rajanya Shih-li-t-’o-pa-mo (Sri Indrawarman) pada tahun 724 mengirimkan hadiah buat kaisar Cina, berupa ts’engchi (artinya sama dengan Zanji dalam bahasa Arab ).

 

Pada paruh pertama abad ke-10, di antara kejatuhan dinasti Tang dan naiknya dinasti Song , perdagangan dengan luar negeri cukup marak, terutama Fujian , pemerintah Min dan pemerintah Nan Han dengan negeri kayanya Guangdong . Tak diragukan lagi Sriwijaya mendapatkan keuntungan dari perdagangan ini.

 

Penyebaran penduduk Kekaisaran Bahari

Upaya Sriwijaya untuk menjamin dominasi perdagangan bahari di Asia Tenggara berjalan seiring dengan perluasan Sriwijaya sebagai sebuah Kekaisaran bahari atau thalasokrasi . Dengan menaklukkan kota pelabuhan negara tetangga yang berpotensi sebagai pesaingnya, Sriwijaya secara otomatis juga melebarkan pengaruh dan wilayah kekuasaannya di daerah. Sebagai Kekaisaran bahari, pengaruh Sriwijaya jarang masuk sampai jauh di wilayah pedalaman. Sriwijaya kebanyakan menerapkan kedaulatannya di wilayah pesisir pantai dan daerah sungai besar yang dapat dijangkau armada perahu angkatan lautnya di wilayah Nusantara, dengan pengecualian pulau Madagaskar . Diduga penduduk yang berasal dari Sriwijaya telah mengkoloni dan membangun populasi di pulau Madagaskar yang terletak 3300 mil atau 8000 kilometer di sebelah Barat di seberang Samudra Hindia .

 

Sebuah penelitian yang dipublikasikan oleh Jurnal Proceedings of The Royal Society , bahwa nenek moyang penduduk Madagaskar adalah orang Indonesia . Para peneliti meyakini mereka adalah pemukim asal Kerajaan Sriwijaya.

Migrasi ke Madagaskar diperkirakan terjadi 1200 tahun yang lalu sekitar kurun tahun 830 M. Berdasarkan penelitian DNA mitokondria, suku pribumiMalagasy dapat merunut silsilah mereka kepada 30 perempuan perintis yang berlayar dari Indonesia 1200 tahun yang lalu. [28] Bahasa Malagasy mengandung kata serapan dari bahasa Sansekerta dengan modifikasi linguistik melalui bahasa Jawa dan bahasa Melayu , hal ini merupakan sebuah petunjuk bahwa penduduk Madagaskar dikoloni oleh penduduk yang berasal dari Sriwijaya.

Periode kolonisasi Madagaskar bersamaan dengan kurun ketika Sriwijaya mengembangkan jaringan perdagangan bahari di seantero Nusantara dan Samudra Hindia.

Hubungan dengan wangsa Sailendra

Munculnya keterkaitan antara Sriwijaya dengan dinasti Sailendra dimulai karena adanya nama Śailendravamśa pada beberapa prasasti di antaranya pada prasasti Kalasan di pulau Jawa, prasasti Ligor di selatan Thailand, dan prasasti Nalanda di India. Sementara pada prasasti Sojomerto ditemukan nama Dapunta Selendra . Walau asal-usul dinasti ini masih diperdebatkan sampai sekarang.

Majumdar berpendapat dinasti Sailendra yang terdapat di Sriwijaya (Suwarnadwipa) dan Medang (Jawa), keduanya berasal dari Kalinga di selatan India . Kemudian Moens menambahkan kedatangan Dapunta Hyang ke Palembang , menyebabkan salah satu keluarga dalam dinasti ini pindah ke Jawa. Sementara Poerbatjaraka berpendapat bahwa dinasti ini berasal dari Nusantara, didasarkan atas Carita parahiyangan 

kemudian dikaitkan dengan beberapa prasasti lain di Jawa yang berbahasa Melayu Kuna di antaranya prasasti Sojomerto .

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Wangsa Sailendra

 

Hubungan dengan kekuatan regional

Untuk memperkuat posisinya pada penguasaan kawasan Asia Tenggara, Sriwijaya menjalin hubungan diplomasi dengan kekaisaran Cina , dan secara teratur mengantarkan utusan beserta upeti.

Pada tahun 100 Hijriyah (718 Masehi) Kaisar Sriwijaya bernama Sri Indrawarman mengirimkan surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Kekhalifahan Umayyah , yang berisi permintaan kepada Khalifah untuk mengirimkan ulama yang dapat menjelaskan ajaran dan hukum Islam kepadanya. Dalam surat itu tertulis:

“Dari Raja sekalian para raja yang juga adalah keturunan ribuan raja, yang isterinya pun adalah cucu dari ribuan raja, yang kebun binatangnya dipenuhi ribuan gajah, yang wilayah kekuasaannya terdiri dari dua sungai yang mengairi tanaman lidah buaya, rempah wangi, pala, dan jeruk nipis , yang aroma harumnya menyebar sampai 12 mil. Kepada Raja Arab yang tidak menyembah tuhan-tuhan lain selain Allah. Aku telah mengirimkan kepadamu bingkisan yang tak seberapa sebagai tanda persahabatan. Kuharap engkau sudi mengutus seseorang untuk menjelaskan ajaran Islam dan segala hukum-hukumnya kepadaku. “

- Surat Kaisar Sriwijaya, Sri Indrawarman kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Peristiwa ini membuktikan bahwa Sriwijaya telah menjalin hubungan diplomatik dengan dunia Islam atau dunia Arab. Meskipun demikian surat ini bukanlah berarti bahwa raja Sriwijaya telah memeluk agama Islam, melainkan hanya menunjukkan keinginan sang raja untuk mengenal dan mempelajari berbagai hukum, budaya, dan adat-istiadat dari berbagai rekan bisnis dan peradaban yang dikenal Sriwijaya saat itu; yakni Tiongkok, India, dan Timur Tengah.

Pada masa awal, Pemerintah Khmer merupakan daerah jajahan Sriwijaya. Banyak sejarawan mengklaim bahwa Chaiya , di propinsi Surat Thani, Thailand Selatan, sebagai ibu kota kerajaan tersebut.Pengaruh Sriwijaya nampak pada bangunan pagoda Borom That yang bergaya Sriwijaya. Setelah kejatuhan Sriwijaya, Chaiya terbagi menjadi tiga kota yakni (Mueang) Chaiya, Thatong (Kanchanadit), dan Khirirat Nikhom.

Sriwijaya juga berhubungan dekat dengan kerajaan Pala di Benggala , pada prasasti Nalanda numerik 860 mencatat bahwa raja Balaputradewa mendedikasikan sebuah biara kepada Universitas Nalanda . Relasi dengan dinasti Chola di selatan India ini cukup baik. Dari prasasti Leiden disebutkan raja Sriwijaya di Kataha Sri Mara-Vijayottunggawarmantelah membangun sebuah vihara yang disebut dengan Vihara Culamanivarmma , namun menjadi buruk setelah Rajendra Chola I naik tahta yang melakukan penyerangan pada abad ke-11.Kemudian hubungan ini kembali membaik pada masa Kulothunga Chola I , di mana raja Sriwijaya di Kadaram mengirimkan utusan yang meminta dikeluarkannya pengumuman pembebasan pajak pada daerah sekitar Vihara Culamanivarmma tersebut. Namun demikian pada masa ini Sriwijaya dianggap telah menjadi bagian dari dinasti Chola . Kronik Tiongkok menyebutkan bahwa Kulothunga Chola I ( Ti-hua-ka-lo ) sebagai raja San-fo-ts’i, membantu perbaikan candi dekat Kanton pada tahun 1079 . Pada masa dinasti Song candi ini disebut dengan nama Tien Ching Kuan , dan pada masa dinasti Yuan disebut dengan nama Yuan Miau Kwan .

 

Masa keemasan

Kekaisaran Sriwijaya bercirikan kerajaan maritim. Mengandalkan hegemoni pada kekuatan armada lautnya dalam menguasai alur pelayaran, jalur perdagangan, menguasai dan membangun beberapa kawasan strategis sebagai basis armadanya dalam mengawasi, melindungi kapal-kapal dagang, memungut pajak, serta untuk menjaga wilayah kedaulatan dan kekuasaanya.

Dari catatan sejarah dan bukti arkeologi, pada abad ke-9 Sriwijaya telah melakukan kolonisasi di hampir seluruh kerajaan-kerajaan Asia Tenggara, antara lain:Sumatera , Jawa , Semenanjung Malaya , Thailand , Kamboja , Vietnam ,  dan Filipina . Dominasi atas Selat Malaka dan Selat Sunda , menjadikan Sriwijaya sebagai pengendali rute perdagangan rempah dan perdagangan lokal yang mengenakan biaya atas setiap kapal yang lewat. Sriwijaya mengumpulkan kekayaannya dari jasa pelabuhan dan gudang perdagangan yang melayani pasar Tiongkok, dan India.

Sriwijaya juga disebut berperan dalam menghancurkan Kerajaan Medang di Jawa. Dalam prasasti Pucangan disebutkan sebuah peristiwa Mahapralaya , yaitu peristiwa hancurnya istana Medang di Jawa Timur, di mana Haji Wurawari dari Lwaram yang kemungkinan merupakan raja bawahan Sriwijaya, pada tahun 1006 atau 1016 menyerang dan menyebabkan terbunuhnya raja Medang terakhir Dharmawangsa Teguh .

Masa penurunan

Tahun 1017 dan 1025 , Rajendra Chola I , raja dari dinasti Chola di Koromandel , India selatan, mengirim ekspedisi laut untuk menyerang Sriwijaya. Berdasarkan prasasti Tanjore tertanggal 1030 , Pemerintah Chola telah menaklukan daerah-daerah koloni Sriwijaya, sekaligus berhasil menawan raja Sriwijaya yang berkuasa waktu itu Sangrama-Vijayottunggawarman . Selama beberapa dekade berikutnya, seluruh imperium Sriwijaya telah berada dalam pengaruh dinasti Chola. Meskipun demikian Rajendra Chola I tetap memberikan kesempatan kepada raja-raja yang ditaklukannya untuk tetap berkuasa selama tetap tunduk kepadanya.  Hal ini dapat dikaitkan dengan adanya berita utusan San-fo-ts’i ke Cina tahun 1028 .

Kawasan Sriwijaya dalam prasasti Tanjore
Nama daerah Keterangan
Pannai Pannai
Malaiyur Malayu
Mayirudingam
Ilangasogam Langkasuka
Mappappalam
Mevilimbangam
Valaippanduru
Takkolam
Madamalingam Tambralingga
Ilamuri-Desam Lamuri
Nakkavaram Nikobar
Kadaram Jakarta

Namun demikian pada masa ini Sriwijaya dianggap telah menjadi bagian dari dinasti Chola. Kronik Tiongkok menyebutkan bahwa pada tahun1079 , Kulothunga Chola I ( Ti-hua-ka-lo ) raja dinasti Chola disebut juga sebagai raja San-fo-ts’i, yang kemudian mengirimkan utusan untuk membantu perbaikan candi dekat Kanton. Selanjutnya dalam berita Cina yang berjudul Sung Hui Yao disebutkan bahwa pemerintah San-fo-tsi pada tahun 1082 masih mengirimkan utusan pada masa Cina di bawah pemerintahan Kaisar Yuan Fong. Duta besar tersebut menyampaikan surat dari raja Kien-pi bawahan San-fo-tsi, yang merupakan surat dari putri raja yang diserahi urusan negara San-fo-tsi, serta menyerahkan pula 227 tahil perhiasan, rumbia, dan 13 potong pakaian. Kemudian juga mengirimkan utusan berikutnya pada tahun 1088 . Pengaruh invasi Rajendra Chola I, terhadap hegemoni Sriwijaya atas raja-raja bawahannya melemah. Beberapa daerah taklukan melepaskan diri, sampai muncul dharmasraya dan Pagaruyung sebagai kekuatan baru yang kemudian menguasai kembali wilayah jajahan Sriwijaya mulai dari daerah Semenanjung Malaya, Sumatera, sampai Jawa bagian barat.

Pada tahun 1079 dan 1088 , catatan Cina menunjukkan bahwa Sriwijaya mengirimkan duta besar di Cina.Khususnya pada tahun 1079 , masing-masing duta besar tersebut mengunjungi Cina. Ini menunjukkan bahwa ibu kota Sriwijaya selalu bergeser dari satu kota maupun kota lainnya selama periode tersebut. Ekspedisi Chola mengubah jalur perdagangan dan melemahkan Palembang, yang memungkinkan Jambi untuk mengambil kepemimpinan Sriwijaya pada abad ke-11 .

Berdasarkan sumber Tiongkok pada buku Chu-fan-chi  yang ditulis pada tahun 1178, Chou-Ju-Kua menerangkan bahwa di kepulauan Asia Tenggara terdapat dua kerajaan yang sangat kuat dan kaya, yakni San-fo-ts’i dan Cho- po (Jawa). Di Jawa dia menemukan bahwa rakyatnya memeluk agama Budha dan Hindu, sedangkan rakyat San-fo-ts’i memeluk Budha, dan memiliki 15 daerah bawahan yang meliputi; Si-lan ( Kamboja ), Tan-ma-ling ( Tambralingga , Ligor, selatan Thailand), Kia-lo-hi (Grahi, Chaiya sekarang, selatan sungai Dungun daerah Jakarta sekarang), Ji-lo-t’ing ( Bali , pantai timur semenanjung malaya), Ts’ien-mai ( Semawe , pantai timur semenanjung malaya), Pa-t’a ( Sungai Paka , pantai timur Semenanjung Malaya ), Lan-wu-li ( Lamuri di Aceh ),Pa-lin-fong ( Palembang ), Kien-pi ( Jambi ), dan Sin-t’o ( Sunda ). 

Namun demikian, istilah San-fo-tsi terutama pada tahun 1178 tidak lagi identik dengan Sriwijaya, melainkan telah identik dengan dharmasraya . Dari daftar 15 negeri bawahan San-fo-tsi tersebut, ternyata adalah wilayah jajahan Kerajaan dharmasraya. Meskipun sumber Tiongkok tetap menyebut San-fo-tsi sebagai pemerintah yang berada di kawasan Laut Cina Selatan . Hal ini karena dalam Pararaton disebutkan Malayu . Kitab ini mengisahkan bahwa Kertanagara raja Singhasari , mengirim sebuah ekspedisi Pamalayu atau Pamalayu , dan kemudian menghadiahkan Arca Amoghapasa kepada raja Melayu, Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa di dharmasraya sebagaimana yang tertulis pada prasasti Padang Roco . Peristiwa ini kemudian dikaitkan dengan manuskrip yang terdapat pada prasasti Grahi . Begitu juga dalam Nagarakretagama yang menguraikan tentang daerah jajahan Majapahit , juga sudah tidak menyebutkan lagi nama Sriwijaya untuk kawasan yang sebelumnya merupakan daerah Sriwijaya.

 

Struktur pemerintahan

Pembentukan satu negara kesatuan dalam dimensi struktur otoritas politik Sriwijaya, dapat dilacak dari beberapa prasasti yang mengandung informasi penting tentang kadātuan , vanua , samaryyāda , mandala dan bhumi .

Kadātuan dapat berarti daerah datu , ( tnah rumah ) tempat tinggal bini haji , tempat disimpan mas dan hasil pajak ( drawy ) sebagai wilayah yang harus dijaga. Kadātuan ini dikelilingi oleh vanua , yang dapat dianggap sebagai daerah kota dari Sriwijaya yang didalamnya ada vihara untuk tempat beribadah bagi masyarakatnya. Kadātuan dan vanua ini merupakan satu kawasan inti untuk Sriwijaya itu sendiri. Menurut Casparis , samaryyāda merupakan daerah yang berbatasan dengan vanua , yang terhubung dengan jalan khusus ( samaryyāda-patha ) yang dapat berarti pedesaan. Sedangkan mandalamerupakan suatu daerah otonom dari bhumi yang berada dalam pengaruh kekuasaan kadātuan Sriwijaya.

Penguasa Sriwijaya disebut dengan Dapunta Hyang atau Kaisar , dan dalam lingkaran raja ada secara berurutan yuvarāja (putra mahkota), pratiyuvarāja(putra mahkota kedua) dan rājakumāra (pewaris berikutnya). Prasasti Telaga Batu banyak menyebutkan berbagai jabatan dalam struktur pemerintahan kerajaan di masa Sriwijaya.

 

Raja yang memerintah

Para Kaisar Sriwijaya

Tahun Nama Raja Ibukota Prasasti, catatan pengiriman utusan ke Tiongkok dan peristiwa
671 Dapunta Hyang atau Sri Jayanasa SrivijayaShih-li-fo-shih Catatan perjalanan I Tsing pada tahun 671-685, Penaklukan Malayu, penaklukan JawaPrasasti Kedukan Bukit (683), Talang Tuo (684), Kota Kapur (686), Karang brahi danPalas Pasemah
702 Sri IndrawarmanShih-li-t-’o-pa-mo SriwijayaShih-li-fo-shih Utusan ke Tiongkok 702-716, 724Utusan ke Khalifah Muawiyah I dan Khalifah Umar bin Abdul Aziz
728 Rudra VikramanLieou-t’eng-wei-kong SriwijayaShih-li-fo-shih Utusan ke Tiongkok 728-742
743-774 Belum ada berita pada periode ini
775 Sri Maharaja Sriwijaya Prasasti Ligor B tahun 775 di Nakhon Si Thammarat, selatan Thailand dan menaklukkanKamboja
Pindah ke Jawa ( Jawa Tengahatau Yogyakarta ) Wangsa Sailendra mengantikan Wangsa Sanjaya
778 Dharanindra atau Rakai Panangkaran Jawa Prasasti Kelurak 782 di sebelah utara kompleks Candi PrambananPrasasti Kalasan tahun 778 di Candi Kalasan
782 Samaragrawira atau Rakai Warak Jawa Prasasti Nalanda dan prasasti Mantyasih tahun 907
792 Samaratungga atau Rakai Garung Jawa Prasasti Karang Tengah tahun 824,825 menyelesaikan pembangunan candi Borobudur
840 Kebangkitan Wangsa Sanjaya, Rakai Pikatan
856 Balaputradewa Suwarnadwipa Kehilangan kekuasaan di Jawa, dan kembali ke SuwarnadwipaPrasasti Nalanda tahun 860, India
861-959 Belum ada berita pada periode ini
960 Sri Udayaditya WarmadewaSe-li-hou-ta-hia-li-tan SriwijayaSan-fo-ts’i Utusan ke Tiongkok 960, & 962
980 Utusan ke Tiongkok 980 & 983: dengan raja, Hie-tche (Haji)
988 Sri Cudamani WarmadewaSe-li-chu-la-wu-ni-fu-ma-tian-hwa SriwijayaMalayagiri (Suwarnadwipa) San-fo-ts’i 990 Jawa menyerang Sriwijaya, Catatan Atiśa ,
Utusan ke Tiongkok 988-992-1003,
pembangunan candi untuk kaisar Cina yang diberi nama cheng tien wan shou
1008 Sri Mara-VijayottunggawarmanSe-li-ma-la-pi San-fo-ts’iKataha Prasasti Leiden & utusan ke Tiongkok 1008
1017 Utusan San-fo-ts’i ke Tiongkok 1017: dengan raja, Ha-ch’i-su-wa-ch’a-p’u
Haji Sumatrabhumi (?)); gelar haji biasanya untuk raja bawahan
1025 Sangrama-Vijayottunggawarman SriwijayaKadaram Diserang oleh Rajendra Chola I dan menjadi tawananPrasasti Tanjore tertanggal 1030 di candi Rajaraja, Tanjore, India
1030 Dibawah Dinasti Chola dari Koromandel
1079 Utusan San-fo-ts’i dengan raja Kulothunga Chola I ( Ti-hua-ka-lo ) ke Tiongkok 1079 membantu memperbaiki candi Tien Ching di Kuang Cho (dekat Kanton)
1082 Utusan San-fo-ts’i dari Kien-pi ( Jambi ) ke Tiongkok 1082 dan 1088
1089-1177 Belum ada berita
1178 Laporan Chou-Ju-Kua buku Chu-fan-chi berisi daftar koloni San-fo-ts’i
1183 Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa Dharmasraya Dibawah Dinasti Mauli , Pemerintah Melayu , Prasasti Grahi tahun 1183 di selatanThailand

Warisan sejarah

Meskipun Sriwijaya hanya menyisakan sedikit peninggalan arkeologi dan keberadaanya sempat terlupakan dari ingatan masyarakat pendukungnya, penemuan kembali Kekaisaran bahari ini oleh Coedès pada tahun 1920-an telah membangkitkan kesadaran bahwa suatu bentuk asosiasi politik raya, berupa Kekaisaran yang terdiri atas persekutuan kerajaan-kerajaan bahari, pernah bangkit, tumbuh, dan berhasil di masa lalu.

Warisan terpenting Sriwijaya mungkin adalah bahasanya. Selama berabad-abad, kekuatan ekononomi dan keperkasaan militernya telah berperan besar pada tersebarluasnya penggunaan Bahasa Melayu Kuno di Nusantara, setidaknya di kawasan pesisir. Bahasa ini menjadi bahasa kerja atau bahasa yang berfungsi sebagai penghubung ( lingua franca ) yang digunakan di berbagai kota dan pasar di kawasan Nusantara.  Tersebar luasnya Bahasa Melayu Kuno ini mungkin yang telah membuka dan memuluskan jalan untuk Bahasa Melayu sebagai bahasa nasional Malaysia, dan Bahasa Indonesiasebagai bahasa pemersatu Indonesia modern.

Selain Majapahit, kaum nasionalis Indonesia juga mengagungkan Sriwijaya sebagai sumber kebanggaan dan bukti kesuksesan masa lampau Indonesia.Kegemilangan Sriwijaya telah menjadi sumber kebanggaan nasional dan identitas daerah, khususnya untuk penduduk kota Palembang ,Sumatera Selatan . Keluhuran Sriwijaya telah menjadi inspirasi seni budaya, seperti lagu dan tarian tradisional Gending Sriwijaya . Hal yang sama juga berlaku untuk masyarakat selatan Thailand yang menciptakan kembali tarian Sevichai yang berdasarkan pada keanggunan seni budaya Sriwijaya.

Di Indonesia, nama Sriwijaya telah digunakan dan diabadikan sebagai nama jalan di berbagai kota, dan nama ini juga digunakan oleh Universitas Sriwijaya yang didirikan tahun 1960 di Palembang. Demikian pula Kodam II Sriwijaya (unit komando militer), PT Pupuk Sriwijaya (Perusahaan Pupuk di Sumatera Selatan), Sriwijaya Post (Surat kabar harian di Palembang), Sriwijaya TV , Sriwijaya Air (maskapai penerbangan), Stadion Gelora Sriwijaya , dan Sriwijaya Football Club (Klab sepak bola Palembang). Semuanya dinamakan demikian untuk menghormati, memuliakan, dan merayakan Kekaisaran Sriwijaya yang gemilang. Pada tanggal 11 November 2011 digelar upacara pembukaan SEA Games 2011 di Stadion Gelora Sriwijaya, Palembang.Upacara pembukaan ini menampilkan tarian kolosal yang berjudul “Srivijaya the Golden Peninsula” menampilkan tarian tradisional Palembang dan juga replika ukuran sebenarnya perahu Sriwijaya untuk menggambarkan kesuksesan Kekaisaran bahari ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: